saya tertarik untuk menyadur berita ini,dan memposting di blog saya:
Let's check it out :D,-
JADILAH perokok yang sehat. Mungkin hal itu mustahil untuk diwujudkan.
Tapi, rupanya tidak bagi H Suwarno M Serad. Menurut Direktur PT Djarum
ini, orang yang merokok masih bisa hidup sehat. Benarkah?
Sudah
jamak jika orang bilang, merokok itu tidak sehat. Merokok itu jelek.
Merokok itu bisa menyebabkan sakit paru-paru. Merokok itu bisa
menyebabkan asma, merokok bisa menyebabkan kanker, dan masih banyak lagi
dampak buruk merokok lainnya.
Itu bisa dimaklumi, karena
image buruk mengonsumsi rokok di masyarakat seperti itu. Padahal,
sejatinya semua justifikasi itu tak seluruhnya benar. Sebab, orang tak
merokok pun, tidak ada jaminan bebas dari bermacam penyakit.
"Apa
orang bisa menjamin, jika tidak merokok akan terbebas dari segala
penyakit itu. Kan tidak? Buktinya, saya sudah 50 tahun lebih merokok,
tetap sehat. Anda lihat sendiri kondisi saya tetap fresh. Padahal usia
saya sudah 75 tahun lho," ujar Suwarno M. Serad saat ditemui Jawa Pos.
Menurut
pria yang akrab disapa Pak Warno ini, pagi penggemar rokok, tidak
gampang untuk meninggalkan kebiasaan satu ini. Sebab, merokok itu
diibaratkan makan sayur. Tak lengkap kalau tidak diberi garam.
Nah,
persoalannya sekarang, bagaimana cara mengendalikan diri agar tetap
merokok tetapi masih mampu mempertahankan status tubuh sehat dan bugar
memenuhi kriteria sehat WHO?
Sebelum menjelaskan hal itu,
Suwarno sempat mengutip kriteria sehat versi WHO, disebutkan bahwa sehat
adalah kesehatan fisikal, mental dan sosial secara lengkap dan tidak
sekadar tiadanya penyakit atau kelemahan lain. Dengan demikian, sehat
tak hanya dilihat dari fisik semata, tapi juga lingkungan sekitar.
Termasuk,
dalam merokok. Tak selamanya merokok dikatakan sebagai penyebab
munculnya suatu penyakit. Sebab, lingkungan sekitar juga memberikan
andil yang cukup besar.
Ia mencontohkan, perokok yang
mengalami sakit asma. Bisa jadi itu lantaran disebabkan karena rumahnya
terlalu lembab. Sehingga membuat orang tersebut kesulitan menyerap
oksigen.
"Orang sakit asma itu kalau musim dingin pasti
kumat. Karena susah mengisap oksigen. Itu karena lingkungannya terlalu
lembab. Jadi, belum tentu dia sakit asma karena merokok," tegas pria
yang masih nampak bugar di usia yang hari ini sudah menginjak 75 tahun.
Suwarno
tak menampik jika selama ini rokok dituding sebagai biang segala
penyakit. Banyak yang menuding nikotin yang terkandung dalam rokok
sebagai penyebab orang kecanduan, dan kandungan tar yang dianggap
sebagai penyebab sakit kanker. Padahal, hal itu juga tak sepenuhnya
benar.
Ia lantas mengutip ajaran Paracelsus, founder ilmu
kedokteran dunia abad 16. Disebutkan bahwa di dunia ini tidak ada bahan
beracun, yang ada adalah dosis yang tidak benar. Artinya, apapun kalau
dikonsumsi secara berlebihan akan menjadi ’penyakit’.
Sebaliknya,
jika dikonsumsi sesuai takaran, tidak menjadi masalah. Termasuk dalam
merokok. Sekalipun merokok, tapi kalau tidak berlebihan, tidak masalah.
"Seperti
kita makan atau minum. Kalau sesuai takaran, ya sehat-sehat saja. Tapi,
kalau berlebihan, bisa dibayangkan sendiri. Kebanyakan minum bisa
mlembung. Kebanyakan minum obat bisa nggliyeng. Kebanyakan makan daging
bisa kolesterol, dan sebagainya. Prinsipnya, kita mengonsumsi sesuatu
itu sesuai dengan takaran," jelas Suwarno, yang pernah menjadi salah
satu pembicara diskusi panel "How To Be a Healthy Smoker" yang digelar
Rotary Club Semarang beberapa tahun yang lalu.
Kembali ke
soal nikotin, menurut pria kelahiran Banyuwangi, Jatim ini, zat yang
terkandung dalam rokok ini, sebenarnya tidak pernah betah tinggal dalam
tabuh manusia. Waktu paruh atau half life time nikotin dalam tubuh
manusia antara 20-40 menit.
Ia mencontohkan, jika orang
merokok satu batang rokok filter, kadar nikotin yang terserap dalam
darah sebanyak 40 pph. Dan, setelah 30 menit setelah menghisap rokok,
kadar nikotin dalam darah berkurang separonya menjadi 20 pph. Setelah 30
menit lagi, tinggal 10 pph, dan seterusnya. Dalam 2-3 jam, nikotin
sudah bersih dari dalam darah.
"Jadi, jika tengah malam
orang merokok, keesokan harinya melakukan tes darah, bisa dipastikan
akan bebas nikotin. Karena sifat nikotin itu tidak pernah betah tinggal
dalam tubuh manusia," urainya.
Di sisi lain, lanjut
Suwarno, pengaruh nikotin dalam organ-organ tubuh manusia sering disebut
paradoksikal. Pada dosis rendah dan waktu pendek bisa menstimulir organ
tertentu dan berbeda terhadap organ lain.
Selain itu,
dalam dosis rendah bisa membantu proses belajar dan pembelajaran,
kemungkinan melalui pelepasan norepinephrine dalam otak. "Bagi perokok,
nikotin juga bisa membantu berkonsentrasi dan mengatasi situasi stres,"
imbuhnya.
Suwarno menambahkan, nikotin dalam asap rokok
dikelompokkan dalam fasa partikulat bersama air dan tar. Nikotin
dimetabolisir dalam liver (detoxifikasi), paru dan sebagian oleh ginjal.
Sedangkan organ yang tidak memetabolisir nikotin antara lain otak,
lambung, usus kecil, diafragma dan limpa (spleen).
Dan,
biasanya, jelas Suwarno, nikotin meninggalkan tubuh melalui keringat,
dan air liur perokok. "Yang paling penting, nikotin dibuang lewat air
kencing," ujarnya.
Disadur dan disunting dari Jawa Pos News Network (JPNN)
No comments:
Post a Comment